Tak pernah terfikirkan sebelumnya ketika akan menginjakkan kaki di bumi kinanah ini. Meskipun tau , ketika di negeri orang adalah bahasa yang paling utama, karenanya sebagai media komunikasi sehari – hari. Namun yang selalu terlintas dalam benakku , bahasa arab hanyalah satu. Ternyata ada juga bahasa yang memang biasa dipakai oleh masyarakat , terutama di Negeri Anbiya ini. Dan bahasa tersebut memang sebelumya tak pernah di dengar oleh daun telinga kita. Apalagi bagi para pendatang asing yang tinggal di Mesir . Kecuali hanya satu kosakata arab yang memang sering dipakai dan ku kira itu bahasa baku (fusha), yaitu kata " Maasyi " yang artinya "OK" . Itupun awalnya aku dengar dari seorang guru pengampu bahasa arab ketika di Madrasah ' Aliyah dan beliau alumni dari universitas Al Azhar.
Di Negeri Musa ini ada dua
bahasa yang biasa dipakai oleh masyarakat, bahasa fusha ( baku) dan lahjah
'ammiyah ( aksen pasaran ). Aksen pasaran inilah yang awal tiba di Mesir
selalu bikin pusing di setiap hal yang berurusan dengan penduduknya. Semua kalimat yang lalu lalang di daun
telinga semuanya asing, bahkan bagiku kedengarannya aneh bin lucu. Yang jelas
kesan pertama memang menjengkelkan dan terasa ribet dibuatnya.
Di awal tahun ajaran baru kita
sampai di Cairo, tepatnya tahun 2010 para calon mahasiswi Al Azhar mendapatkan
ketentuan baru bahwasannya para calon mahasiswi harus mengikuti pembelajaran
bahasa Arab selama 1 tahun,sebagai penyesuaian dan modal utama pembekalan
belajar di Al Azhar, sehingga tidak diperkenankan masuk ke universitas dan
mengambil jurusan yang diinginkannya.Selama pembelajaran kita memang dituntut
untuk aktif berbahasa fusha,bahkan sebagain dosen melarang kami menggunakan
lahjah ‘ammiyah, namun ketika sudah keluar dari pintu gerbang kembali kita berhadapan
dengan bahasa yang aneh – aneh.
Hari pertama aku mulai
aktivitas untuk bangun pagi kemudian dilanjutkan dengan berbagai persiapan
untuk mengikuti pembelajaran bahasa di
kampus, aku memang terbiasa berangkat ke kampus sendirian. Dalam benakku memang
untuk melatih keberanian, termasuk berani untuk berbicara. Masih di musim
dingin, di pagi hari hari aku selalu menunggu bus menuju ke kuliah di Mahathah
( tempat pemberhentian bus). Meskipun
cuaca sangat dingin, namun masyarakat Mesir tak pernah menjadi alasan
untu beraktivitas di pagi hari. Selalu saja ramai di berbagai tempat. Ketika
aku sedang menunggu bus, ada seorang ibu beserta satu anaknya yang sudah cukup
dewasa lewat disampingku dan menyapaku . Awalnya aku pikir sapaan biasa, karena
sebelum aku datang di Mesir memang sudah tau kalau masyarakat Mesir suka bermujammalah
( basa – basi) . Setelah menyapaku tentang hal kabar , ibu dengan kostum jubah
warna hitam mennyakan kepadaku dengan
aksen keseharian mesir " Ma'aki Alam " ( apakah kamu
punya pena ?)" pertanyaan ringan seperti itu, waktu itu membuatku pusing
dibuatnya dan rasanya aku ingin kabur dari pertanyaan ibu tersebut. Yang aku
tau alam adalah semua apa yang ada di semesta ini. Dan waktu itu juga
aku belum faham kalau oang Mesir susah untuk mengucapkan huruf "Q".
sehingga terdengarlah " alam" . Kemungkinan seorang ibu dengan
penampilan yang sederhana itupun merasa heran, seorang pelajar dengan membawa
tas dan di kedua tangannya terlihat membawa kitab tak membawa pena. Beliaupun
diam saja setelah mendengar jawaban isyaratku dengan menggelengkan kepala.
Akhirnya ibu pergi meninggalkanku . dan ketika ku lirik beliau, beliaupun masih
melihatku dengan wajah penuh keheranan. Tak lama juga aku liat ibu itu
berpapasan dengan seorang gadis yang berpakaian rapi , lalu diajaknya gadis
tersebut untuk menyapaku kembali. Kali ini bukan giliran ibu yang menanyakan
kepadaku, tetapi gadis dengan wajah putih, berkulit halus dan berbulu mata
lentik itu menanyakan kepadaku dengan pertanyaan yang sama dengan ibu tadi "
ma'aki alam ?" ( apakah kamu punya pena ?'" tak cukup dengan kata
saja gadis itu menanyakan kepadaku, tetapi dengan isyarat tangan dia mencoba
menjelaskan kepadaku. Barulah kali ini
aku memahaminya.Tak cukup dalam hitungan menit , selalu muncul
pertanyaan dalam hati. “ kenapa sih, bahasa mereka kurasa susah sekali untuk
kufahami??? , dan begitu cepatnya ketika berbicara menyampaiakan sesuatu???”
Menangkap maksud saja susah, apalagi menirukan ucapan dan gayanya.
Mulai dari pengalaman sekecil
itu , barulah kusadari arti pentingnya bahasa terutama dalam komunikasi di
setiap saat. Apalagi sebagian penduduk Mesir yang memang terkadang tidak mau
sama sekali untuk menggunakan bahasa fusha dalam bergaul. Hanya beberapa dari
kalangan terpelajarlah yang mau menggunakannya. Bahkan sampai di perkuliahanpun
sebagian dosen menerangkan mata kuliahnya dengan lahjah 'ammiyah. Meskipun
dari beberapa mahasiswi asing yang sering protes ,namun hanya beberapa menit
saja dosen menggunakan bahasa fusha, dan tak lama kemudian kembali ke
bahasa yang bagiku amat rumit. Sehingga memang perlu di biasakan melatih diri
untuk berani berbicara. Karena modal dari suatu bahasa bukan banyaknya kosakata
yang kita miliki, namun berbicara. Ditambah lagi dengan berbagai urusan
administrasi yang kita anggap memang rumit , seringkali menjadi kendala bagi
para mahasiswi, terutama mahasiswi baru. Tak jarang juga mahasiswi baru tiba di
Mesir dan mulai dengan aktivitas berbagai administrasinya sering dibentak karena susahnya memahami
maksud masing – masing.
Lahjah
‘ammiyah memang terkadang beda ucapan dan lebih singkat
dibandingkan dengan bahasa fusha.Sehingga menjadikan kita belajar di
Universitas Al Azhar yang selalu kita idam – idamkan dan kita banggakan tidak
hanya di uji dalam hal materi perkuliahan akan tetapi di uji dalam hal
kesabaran. Tidak jarang kita dengar di saat antri dengan berbagai ijroat
( urusan administrasi) kata yang sangat terpopuler , yaitu "
bukroh" ( besok ). Seolah – olah kata itu gampang sekali ditepati.
Karena kita pun tidak heran lagi dengan kata ' besok " masyarakat mesir
adalah minggu depan , bahkan bulan depan bagi kita. Ternyata dengan sulitnya
kita memahami bahasa orang lain yang bukan bahasa kita sehari – hari menjadikan
kita akan butuh dan perluya bergaul dengan teman mahasiswi dari negara lain,
terutama Mesir. Tanpa kuyakini sebelumnya, ternyata setelah lebih dari setahun
tinggal dan berkomunikasi setiap hari, menjadikanku merasa simple dengan apa
yang kuucapkan bahkan seringkali merasa percaya diri saat menirukan gaya
bicaranya yang selalu fashih (jelas) dan seringkali menggerakkan kepala
dan kedua tangannya. Pengalaman seperti inilah yang hanya kutemukan di Negeri
sumbernya ilmu pengetahuan ( Mesir).~Oleh: Fitroh Hasanah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar