Minggu, 02 Agustus 2015

Episode Perantauan

Tak pernah terfikirkan sebelumnya ketika akan menginjakkan kaki di bumi kinanah ini. Meskipun tau , ketika di negeri orang adalah bahasa yang paling utama, karenanya sebagai media komunikasi sehari – hari. Namun yang selalu terlintas dalam benakku , bahasa arab hanyalah satu. Ternyata ada juga bahasa yang memang biasa dipakai oleh masyarakat , terutama di Negeri Anbiya ini. Dan bahasa tersebut memang sebelumya tak pernah di dengar oleh daun telinga kita. Apalagi bagi para pendatang  asing yang tinggal di Mesir . Kecuali hanya satu kosakata arab yang memang sering dipakai dan ku kira itu bahasa baku (fusha), yaitu kata " Maasyi " yang artinya "OK" . Itupun awalnya aku dengar dari seorang guru pengampu bahasa arab ketika di Madrasah ' Aliyah dan beliau alumni dari universitas 
 Al Azhar.

Di Negeri Musa ini ada dua bahasa yang biasa dipakai oleh masyarakat, bahasa fusha ( baku) dan lahjah 'ammiyah ( aksen pasaran ). Aksen pasaran inilah yang awal tiba di Mesir selalu bikin pusing di setiap hal yang berurusan dengan penduduknya.  Semua kalimat yang lalu lalang di daun telinga semuanya asing, bahkan bagiku kedengarannya aneh bin lucu. Yang jelas kesan pertama memang menjengkelkan dan terasa ribet dibuatnya.
Di awal tahun ajaran baru kita sampai di Cairo, tepatnya tahun 2010 para calon mahasiswi Al Azhar mendapatkan ketentuan baru bahwasannya para calon mahasiswi harus mengikuti pembelajaran bahasa Arab selama 1 tahun,sebagai penyesuaian dan modal utama pembekalan belajar di Al Azhar, sehingga tidak diperkenankan masuk ke universitas dan mengambil jurusan yang diinginkannya.Selama pembelajaran kita memang dituntut untuk aktif berbahasa fusha,bahkan sebagain dosen melarang kami menggunakan lahjah ‘ammiyah, namun ketika sudah keluar dari pintu gerbang kembali kita berhadapan dengan bahasa yang aneh – aneh.
Hari pertama aku mulai aktivitas untuk bangun pagi kemudian dilanjutkan dengan berbagai persiapan untuk mengikuti pembelajaran  bahasa di kampus, aku memang terbiasa berangkat ke kampus sendirian. Dalam benakku memang untuk melatih keberanian, termasuk berani untuk berbicara. Masih di musim dingin, di pagi hari hari aku selalu menunggu bus menuju ke kuliah di Mahathah ( tempat pemberhentian bus). Meskipun  cuaca sangat dingin, namun masyarakat Mesir tak pernah menjadi alasan untu beraktivitas di pagi hari. Selalu saja ramai di berbagai tempat. Ketika aku sedang menunggu bus, ada seorang ibu beserta satu anaknya yang sudah cukup dewasa lewat disampingku dan menyapaku . 

Awalnya aku pikir sapaan biasa, karena sebelum aku datang di Mesir  memang  sudah tau kalau masyarakat Mesir suka bermujammalah ( basa – basi) . Setelah menyapaku tentang hal kabar , ibu dengan kostum jubah warna hitam mennyakan kepadaku dengan  aksen keseharian mesir " Ma'aki Alam " ( apakah kamu punya pena ?)" pertanyaan ringan seperti itu, waktu itu membuatku pusing dibuatnya dan rasanya aku ingin kabur dari pertanyaan ibu tersebut. Yang aku tau alam adalah semua apa yang ada di semesta ini. 

Dan waktu itu juga aku belum faham kalau oang Mesir susah untuk mengucapkan huruf "Q". sehingga terdengarlah " alam" . Kemungkinan seorang ibu dengan penampilan yang sederhana itupun merasa heran, seorang pelajar dengan membawa tas dan di kedua tangannya terlihat membawa kitab tak membawa pena. Beliaupun diam saja setelah mendengar jawaban isyaratku dengan menggelengkan kepala. Akhirnya ibu pergi meninggalkanku . dan ketika ku lirik beliau, beliaupun masih melihatku dengan wajah penuh keheranan. 

Tak lama juga aku liat ibu itu berpapasan dengan seorang gadis yang berpakaian rapi , lalu diajaknya gadis tersebut untuk menyapaku kembali. Kali ini bukan giliran ibu yang menanyakan kepadaku, tetapi gadis dengan wajah putih, berkulit halus dan berbulu mata lentik itu menanyakan kepadaku dengan pertanyaan yang sama dengan ibu tadi " ma'aki alam ?" ( apakah kamu punya pena ?'" tak cukup dengan kata saja gadis itu menanyakan kepadaku, tetapi dengan isyarat tangan dia mencoba menjelaskan kepadaku. Barulah kali ini  aku memahaminya.Tak cukup dalam hitungan menit , selalu muncul pertanyaan dalam hati. “ kenapa sih, bahasa mereka kurasa susah sekali untuk kufahami??? , dan begitu cepatnya ketika berbicara menyampaiakan sesuatu???” Menangkap maksud saja susah, apalagi menirukan ucapan dan gayanya.
Mulai dari pengalaman sekecil itu , barulah kusadari arti pentingnya bahasa terutama dalam komunikasi di setiap saat. Apalagi sebagian penduduk Mesir yang memang terkadang tidak mau sama sekali untuk menggunakan bahasa fusha dalam bergaul. Hanya beberapa dari kalangan terpelajarlah yang mau menggunakannya. Bahkan sampai di perkuliahanpun sebagian dosen menerangkan mata kuliahnya dengan lahjah 'ammiyah.  

Meskipun dari beberapa mahasiswi asing yang sering protes ,namun hanya beberapa menit saja dosen menggunakan bahasa fusha, dan tak lama kemudian kembali ke bahasa yang bagiku amat rumit. Sehingga memang perlu di biasakan melatih diri untuk berani berbicara. Karena modal dari suatu bahasa bukan banyaknya kosakata yang kita miliki, namun berbicara. Ditambah lagi dengan berbagai urusan administrasi yang kita anggap memang rumit , seringkali menjadi kendala bagi para mahasiswi, terutama mahasiswi baru. Tak jarang juga mahasiswi baru tiba di Mesir dan mulai dengan aktivitas berbagai administrasinya  sering dibentak karena susahnya memahami maksud masing – masing.
Lahjah ‘ammiyah memang terkadang beda ucapan dan lebih singkat dibandingkan dengan bahasa fusha.Sehingga menjadikan kita belajar di Universitas Al Azhar yang selalu kita idam – idamkan dan kita banggakan tidak hanya di uji dalam hal materi perkuliahan akan tetapi di uji dalam hal kesabaran. Tidak jarang kita dengar di saat antri dengan berbagai ijroat ( urusan administrasi) kata yang sangat terpopuler , yaitu " bukroh" ( besok ). Seolah – olah kata itu gampang sekali ditepati. Karena kita pun tidak heran lagi dengan kata ' besok " masyarakat mesir adalah minggu depan , bahkan bulan depan bagi kita. Ternyata dengan sulitnya kita memahami bahasa orang lain yang bukan bahasa kita sehari – hari menjadikan kita akan butuh dan perluya bergaul dengan teman mahasiswi dari negara lain, terutama Mesir. 

Tanpa kuyakini sebelumnya, ternyata setelah lebih dari setahun tinggal dan berkomunikasi setiap hari, menjadikanku merasa simple dengan apa yang kuucapkan bahkan seringkali merasa percaya diri saat menirukan gaya bicaranya yang selalu fashih (jelas) dan seringkali menggerakkan kepala dan kedua tangannya. Pengalaman seperti inilah yang hanya kutemukan di Negeri sumbernya ilmu pengetahuan ( Mesir).

~Oleh: Fitroh Hasanah



Tidak ada komentar:

Posting Komentar