Rabu, 05 Agustus 2015

Beberapa Vocab dengan Dialek Mesir



Nama Buah-buahan 
No Arti Latin Bahasa Amiyah
1 Apel Tuffaah تفاح
2 Semangka Bittikh بطيخ
3 Mangga Mangga مانجا
4 Jeruk Burtu-aal برتقال
5 Strawberry Farawalah فراولة
6 Jambu  Gawafah جوافة
7 Delima Rumman رمان
8 Nanas Anaanas أناناس
9 Anggur Inab عنب
10 Melon Syammaam شمام
11 Pisang Muuz موز
12 Kiwi Kiiwi كيوي
13 Pear Kumitro كمتري
14 Date Balah بلح
15 Apricot Misymisy مشمش
16 Peach khukh خوخ
17 Plum Bar-u' برقوق
18 Tin Tiin تين









Bumbu-Bumbu

No Arti Latin Bahasa Amiyah
1 Cabai filfil فلفل
2 Merica filfil iswid فلفل أسود
3 Kunyit kurkum كركم
4 Ketumbar kuzbaroh كزبرة
5 Jahe Zangabiil زنجبيل
6 Lengkuas Hulunggaan هولونجان
7 Pala Guuz Thiib جوز الطيب
8 Kelapa Guuz Hind جوز هندي
9 Gula Sukkar سكر
10 Garam Milh ملح
11 Bawang merah Bashol بصل
12 Bawang putih tuum توم





Sembako

No Arti Latin Bahasa Amiyah
1 Beras Ruz رز
2 Minyak Zeit زيت
3 Telor Beidh بيض
4 Tea Syai شائ
5 Kopi Ahwah قهوة
6 Keju Gibnah جبنة
7 Kacang Tanah Fuul sudaniy فول سودانئ
8 Terigu Da-ik دقيق

Minggu, 02 Agustus 2015

Contoh Percakapan di Toko Buah


A: إزيك يا عم مصطفي؟
Izayyak yaa ‘am Mustafa ?
Apa Kabar paman Mustafa?

B:  ألحمد لله  كويس, إنت عامل إيه؟
Alhamdulillah kuways, inta ‘aamil eih ?
 Alhamdulillah  baik, kamu sendiri gimana ?

A:  تمام ألجمد لله
Tamaam Alhamdulillah
Baik Alhamdulillah

A:  بكام التفاح ؟
Bikaam Tuffaah?
Berapa harga apel ?

B:  التفاح غالي قوي اليومين دول بقي بعشرين جنيه كيلو .
Et Tuffaah gholy awy el yaumain duul ba-a bi ‘iyriin gineh kiilu
Apel harganya mahal sekali dua sejak hari ini , 20 le sekilonya

A:   ليه كدا بس؟
Leih keda bas
 Kenapa bisa begitu?

B:  هنعمل إيه بس هو سعره في السوق كده
Hana’mal eih bas huw si’ruh fii es suu’ kedah
Mau gimana lagi, memang harga pasarnya segitu

A:  و بكام البرتقال؟
Wa bikem burtu-aal?
Berapa harga jeruk?

B ب 4 جنيه كيلو : 
Bi arba’ah gineh kiilu
Sekilo harganya 4 le

A:  ممكن شنطه لو محت
Moumkin syanthah lau samaht
Minta tolong ambilkan plastik

A:  ممكن أنقي بنفسي؟
Moumkin ana’-I binafsi?
Bolehkah saya pilih sendiri?
B:  
 إتفضل زي ماتحب
Tafadhal zai mathibb
Silakan pilih sesukamu



Episode Perantauan

Tak pernah terfikirkan sebelumnya ketika akan menginjakkan kaki di bumi kinanah ini. Meskipun tau , ketika di negeri orang adalah bahasa yang paling utama, karenanya sebagai media komunikasi sehari – hari. Namun yang selalu terlintas dalam benakku , bahasa arab hanyalah satu. Ternyata ada juga bahasa yang memang biasa dipakai oleh masyarakat , terutama di Negeri Anbiya ini. Dan bahasa tersebut memang sebelumya tak pernah di dengar oleh daun telinga kita. Apalagi bagi para pendatang  asing yang tinggal di Mesir . Kecuali hanya satu kosakata arab yang memang sering dipakai dan ku kira itu bahasa baku (fusha), yaitu kata " Maasyi " yang artinya "OK" . Itupun awalnya aku dengar dari seorang guru pengampu bahasa arab ketika di Madrasah ' Aliyah dan beliau alumni dari universitas 
 Al Azhar.

Di Negeri Musa ini ada dua bahasa yang biasa dipakai oleh masyarakat, bahasa fusha ( baku) dan lahjah 'ammiyah ( aksen pasaran ). Aksen pasaran inilah yang awal tiba di Mesir selalu bikin pusing di setiap hal yang berurusan dengan penduduknya.  Semua kalimat yang lalu lalang di daun telinga semuanya asing, bahkan bagiku kedengarannya aneh bin lucu. Yang jelas kesan pertama memang menjengkelkan dan terasa ribet dibuatnya.
Di awal tahun ajaran baru kita sampai di Cairo, tepatnya tahun 2010 para calon mahasiswi Al Azhar mendapatkan ketentuan baru bahwasannya para calon mahasiswi harus mengikuti pembelajaran bahasa Arab selama 1 tahun,sebagai penyesuaian dan modal utama pembekalan belajar di Al Azhar, sehingga tidak diperkenankan masuk ke universitas dan mengambil jurusan yang diinginkannya.Selama pembelajaran kita memang dituntut untuk aktif berbahasa fusha,bahkan sebagain dosen melarang kami menggunakan lahjah ‘ammiyah, namun ketika sudah keluar dari pintu gerbang kembali kita berhadapan dengan bahasa yang aneh – aneh.
Hari pertama aku mulai aktivitas untuk bangun pagi kemudian dilanjutkan dengan berbagai persiapan untuk mengikuti pembelajaran  bahasa di kampus, aku memang terbiasa berangkat ke kampus sendirian. Dalam benakku memang untuk melatih keberanian, termasuk berani untuk berbicara. Masih di musim dingin, di pagi hari hari aku selalu menunggu bus menuju ke kuliah di Mahathah ( tempat pemberhentian bus). Meskipun  cuaca sangat dingin, namun masyarakat Mesir tak pernah menjadi alasan untu beraktivitas di pagi hari. Selalu saja ramai di berbagai tempat. Ketika aku sedang menunggu bus, ada seorang ibu beserta satu anaknya yang sudah cukup dewasa lewat disampingku dan menyapaku . 

Awalnya aku pikir sapaan biasa, karena sebelum aku datang di Mesir  memang  sudah tau kalau masyarakat Mesir suka bermujammalah ( basa – basi) . Setelah menyapaku tentang hal kabar , ibu dengan kostum jubah warna hitam mennyakan kepadaku dengan  aksen keseharian mesir " Ma'aki Alam " ( apakah kamu punya pena ?)" pertanyaan ringan seperti itu, waktu itu membuatku pusing dibuatnya dan rasanya aku ingin kabur dari pertanyaan ibu tersebut. Yang aku tau alam adalah semua apa yang ada di semesta ini. 

Dan waktu itu juga aku belum faham kalau oang Mesir susah untuk mengucapkan huruf "Q". sehingga terdengarlah " alam" . Kemungkinan seorang ibu dengan penampilan yang sederhana itupun merasa heran, seorang pelajar dengan membawa tas dan di kedua tangannya terlihat membawa kitab tak membawa pena. Beliaupun diam saja setelah mendengar jawaban isyaratku dengan menggelengkan kepala. Akhirnya ibu pergi meninggalkanku . dan ketika ku lirik beliau, beliaupun masih melihatku dengan wajah penuh keheranan. 

Tak lama juga aku liat ibu itu berpapasan dengan seorang gadis yang berpakaian rapi , lalu diajaknya gadis tersebut untuk menyapaku kembali. Kali ini bukan giliran ibu yang menanyakan kepadaku, tetapi gadis dengan wajah putih, berkulit halus dan berbulu mata lentik itu menanyakan kepadaku dengan pertanyaan yang sama dengan ibu tadi " ma'aki alam ?" ( apakah kamu punya pena ?'" tak cukup dengan kata saja gadis itu menanyakan kepadaku, tetapi dengan isyarat tangan dia mencoba menjelaskan kepadaku. Barulah kali ini  aku memahaminya.Tak cukup dalam hitungan menit , selalu muncul pertanyaan dalam hati. “ kenapa sih, bahasa mereka kurasa susah sekali untuk kufahami??? , dan begitu cepatnya ketika berbicara menyampaiakan sesuatu???” Menangkap maksud saja susah, apalagi menirukan ucapan dan gayanya.
Mulai dari pengalaman sekecil itu , barulah kusadari arti pentingnya bahasa terutama dalam komunikasi di setiap saat. Apalagi sebagian penduduk Mesir yang memang terkadang tidak mau sama sekali untuk menggunakan bahasa fusha dalam bergaul. Hanya beberapa dari kalangan terpelajarlah yang mau menggunakannya. Bahkan sampai di perkuliahanpun sebagian dosen menerangkan mata kuliahnya dengan lahjah 'ammiyah.  

Meskipun dari beberapa mahasiswi asing yang sering protes ,namun hanya beberapa menit saja dosen menggunakan bahasa fusha, dan tak lama kemudian kembali ke bahasa yang bagiku amat rumit. Sehingga memang perlu di biasakan melatih diri untuk berani berbicara. Karena modal dari suatu bahasa bukan banyaknya kosakata yang kita miliki, namun berbicara. Ditambah lagi dengan berbagai urusan administrasi yang kita anggap memang rumit , seringkali menjadi kendala bagi para mahasiswi, terutama mahasiswi baru. Tak jarang juga mahasiswi baru tiba di Mesir dan mulai dengan aktivitas berbagai administrasinya  sering dibentak karena susahnya memahami maksud masing – masing.
Lahjah ‘ammiyah memang terkadang beda ucapan dan lebih singkat dibandingkan dengan bahasa fusha.Sehingga menjadikan kita belajar di Universitas Al Azhar yang selalu kita idam – idamkan dan kita banggakan tidak hanya di uji dalam hal materi perkuliahan akan tetapi di uji dalam hal kesabaran. Tidak jarang kita dengar di saat antri dengan berbagai ijroat ( urusan administrasi) kata yang sangat terpopuler , yaitu " bukroh" ( besok ). Seolah – olah kata itu gampang sekali ditepati. Karena kita pun tidak heran lagi dengan kata ' besok " masyarakat mesir adalah minggu depan , bahkan bulan depan bagi kita. Ternyata dengan sulitnya kita memahami bahasa orang lain yang bukan bahasa kita sehari – hari menjadikan kita akan butuh dan perluya bergaul dengan teman mahasiswi dari negara lain, terutama Mesir. 

Tanpa kuyakini sebelumnya, ternyata setelah lebih dari setahun tinggal dan berkomunikasi setiap hari, menjadikanku merasa simple dengan apa yang kuucapkan bahkan seringkali merasa percaya diri saat menirukan gaya bicaranya yang selalu fashih (jelas) dan seringkali menggerakkan kepala dan kedua tangannya. Pengalaman seperti inilah yang hanya kutemukan di Negeri sumbernya ilmu pengetahuan ( Mesir).

~Oleh: Fitroh Hasanah



Pentingnya Bahasa di Negeri Orang


Tak pernah terfikirkan sebelumnya ketika akan menginjakkan kaki di bumi kinanah ini. Meskipun tau , ketika di negeri orang adalah bahasa yang paling utama, karenanya sebagai media komunikasi sehari – hari. Namun yang selalu terlintas dalam benakku , bahasa arab hanyalah satu. Ternyata ada juga bahasa yang memang biasa dipakai oleh masyarakat , terutama di Negeri Anbiya ini. Dan bahasa tersebut memang sebelumya tak pernah di dengar oleh daun telinga kita. Apalagi bagi para pendatang  asing yang tinggal di Mesir . Kecuali hanya satu kosakata arab yang memang sering dipakai dan ku kira itu bahasa baku (fusha), yaitu kata " Maasyi " yang artinya "OK" . Itupun awalnya aku dengar dari seorang guru pengampu bahasa arab ketika di Madrasah ' Aliyah dan beliau alumni dari universitas Al Azhar.

Di Negeri Musa ini ada dua bahasa yang biasa dipakai oleh masyarakat, bahasa fusha ( baku) dan lahjah 'ammiyah ( aksen pasaran ). Aksen pasaran inilah yang awal tiba di Mesir selalu bikin pusing di setiap hal yang berurusan dengan penduduknya.  Semua kalimat yang lalu lalang di daun telinga semuanya asing, bahkan bagiku kedengarannya aneh bin lucu. Yang jelas kesan pertama memang menjengkelkan dan terasa ribet dibuatnya.
Di awal tahun ajaran baru kita sampai di Cairo, tepatnya tahun 2010 para calon mahasiswi Al Azhar mendapatkan ketentuan baru bahwasannya para calon mahasiswi harus mengikuti pembelajaran bahasa Arab selama 1 tahun,sebagai penyesuaian dan modal utama pembekalan belajar di Al Azhar, sehingga tidak diperkenankan masuk ke universitas dan mengambil jurusan yang diinginkannya.Selama pembelajaran kita memang dituntut untuk aktif berbahasa fusha,bahkan sebagain dosen melarang kami menggunakan lahjah ‘ammiyah, namun ketika sudah keluar dari pintu gerbang kembali kita berhadapan dengan bahasa yang aneh – aneh.
Hari pertama aku mulai aktivitas untuk bangun pagi kemudian dilanjutkan dengan berbagai persiapan untuk mengikuti pembelajaran  bahasa di kampus, aku memang terbiasa berangkat ke kampus sendirian. Dalam benakku memang untuk melatih keberanian, termasuk berani untuk berbicara. Masih di musim dingin, di pagi hari hari aku selalu menunggu bus menuju ke kuliah di Mahathah ( tempat pemberhentian bus). Meskipun  cuaca sangat dingin, namun masyarakat Mesir tak pernah menjadi alasan untu beraktivitas di pagi hari. Selalu saja ramai di berbagai tempat. Ketika aku sedang menunggu bus, ada seorang ibu beserta satu anaknya yang sudah cukup dewasa lewat disampingku dan menyapaku . Awalnya aku pikir sapaan biasa, karena sebelum aku datang di Mesir  memang  sudah tau kalau masyarakat Mesir suka bermujammalah ( basa – basi) . Setelah menyapaku tentang hal kabar , ibu dengan kostum jubah warna hitam mennyakan kepadaku dengan  aksen keseharian mesir " Ma'aki Alam " ( apakah kamu punya pena ?)" pertanyaan ringan seperti itu, waktu itu membuatku pusing dibuatnya dan rasanya aku ingin kabur dari pertanyaan ibu tersebut. Yang aku tau alam adalah semua apa yang ada di semesta ini. Dan waktu itu juga aku belum faham kalau oang Mesir susah untuk mengucapkan huruf "Q". sehingga terdengarlah " alam" . Kemungkinan seorang ibu dengan penampilan yang sederhana itupun merasa heran, seorang pelajar dengan membawa tas dan di kedua tangannya terlihat membawa kitab tak membawa pena. Beliaupun diam saja setelah mendengar jawaban isyaratku dengan menggelengkan kepala. Akhirnya ibu pergi meninggalkanku . dan ketika ku lirik beliau, beliaupun masih melihatku dengan wajah penuh keheranan. Tak lama juga aku liat ibu itu berpapasan dengan seorang gadis yang berpakaian rapi , lalu diajaknya gadis tersebut untuk menyapaku kembali. Kali ini bukan giliran ibu yang menanyakan kepadaku, tetapi gadis dengan wajah putih, berkulit halus dan berbulu mata lentik itu menanyakan kepadaku dengan pertanyaan yang sama dengan ibu tadi " ma'aki alam ?" ( apakah kamu punya pena ?'" tak cukup dengan kata saja gadis itu menanyakan kepadaku, tetapi dengan isyarat tangan dia mencoba menjelaskan kepadaku. Barulah kali ini  aku memahaminya.Tak cukup dalam hitungan menit , selalu muncul pertanyaan dalam hati. “ kenapa sih, bahasa mereka kurasa susah sekali untuk kufahami??? , dan begitu cepatnya ketika berbicara menyampaiakan sesuatu???” Menangkap maksud saja susah, apalagi menirukan ucapan dan gayanya.
Mulai dari pengalaman sekecil itu , barulah kusadari arti pentingnya bahasa terutama dalam komunikasi di setiap saat. Apalagi sebagian penduduk Mesir yang memang terkadang tidak mau sama sekali untuk menggunakan bahasa fusha dalam bergaul. Hanya beberapa dari kalangan terpelajarlah yang mau menggunakannya. Bahkan sampai di perkuliahanpun sebagian dosen menerangkan mata kuliahnya dengan lahjah 'ammiyah. Meskipun dari beberapa mahasiswi asing yang sering protes ,namun hanya beberapa menit saja dosen menggunakan bahasa fusha, dan tak lama kemudian kembali ke bahasa yang bagiku amat rumit. Sehingga memang perlu di biasakan melatih diri untuk berani berbicara. Karena modal dari suatu bahasa bukan banyaknya kosakata yang kita miliki, namun berbicara. Ditambah lagi dengan berbagai urusan administrasi yang kita anggap memang rumit , seringkali menjadi kendala bagi para mahasiswi, terutama mahasiswi baru. Tak jarang juga mahasiswi baru tiba di Mesir dan mulai dengan aktivitas berbagai administrasinya  sering dibentak karena susahnya memahami maksud masing – masing.
Lahjah ‘ammiyah memang terkadang beda ucapan dan lebih singkat dibandingkan dengan bahasa fusha.Sehingga menjadikan kita belajar di Universitas Al Azhar yang selalu kita idam – idamkan dan kita banggakan tidak hanya di uji dalam hal materi perkuliahan akan tetapi di uji dalam hal kesabaran. Tidak jarang kita dengar di saat antri dengan berbagai ijroat ( urusan administrasi) kata yang sangat terpopuler , yaitu " bukroh" ( besok ). Seolah – olah kata itu gampang sekali ditepati. Karena kita pun tidak heran lagi dengan kata ' besok " masyarakat mesir adalah minggu depan , bahkan bulan depan bagi kita. Ternyata dengan sulitnya kita memahami bahasa orang lain yang bukan bahasa kita sehari – hari menjadikan kita akan butuh dan perluya bergaul dengan teman mahasiswi dari negara lain, terutama Mesir. Tanpa kuyakini sebelumnya, ternyata setelah lebih dari setahun tinggal dan berkomunikasi setiap hari, menjadikanku merasa simple dengan apa yang kuucapkan bahkan seringkali merasa percaya diri saat menirukan gaya bicaranya yang selalu fashih (jelas) dan seringkali menggerakkan kepala dan kedua tangannya. Pengalaman seperti inilah yang hanya kutemukan di Negeri sumbernya ilmu pengetahuan ( Mesir).

~Oleh: Fitroh Hasanah 


Rabu, 02 Mei 2012

القصّة بين الممحاة و قلم الرصاص


كَانَ فِي دَاخِلِ الْمَقْلَمَة مِمْحَاةُ صَغِيْرَةُ وَقَلَمُ رَصَاصٍ جَمِيْلٍ.. وَدَارَ حِوَارُ قَصِيْرُ بَـيْنهُمَا
Kaana fii daakhili al-maqlamah mimhaatun shoghiirotun wa qolamu roshooshin jamiilin.. Wa daaro hiwaarun qoshiirun bainahumaa.

Al-kisah, di dalam tempat pensil ada sebuah penghapus kecil dan sebuah pensil bagus.. Terjadilah dialog singkat diantara keduanya...

اَلْمِمْحَاة: كَيْفَ حَالُكَ يَا صَدِيْقِي؟
Al-Mimhaat (M): kaifa haaluka yaa shodiiqii?
Penghapus (M): apa kabarmu ya sahabatku?

اَلْقَلَم: لَسْتُ صَدِيْقَكِ !؟
Al-Qolam (Q): lastu shodiiqoka !!
Pensil (Q): aku bukan sahabatmu !!

الممحاة: لِمَاذَا؟
(M): Limaadzaa??
Kenapa??!

القلم: لأَِنَّـنِي أَكْرَهُكِ
(Q): Lianna-nii akrohuki !!
Karena aku membencimu !!

الممحاة: وَلِمَ تَكْرَهُـنِي؟
(M): Wa lima takrohunii ?
Kenapa kamu membenciku ?

القلم: لأَِنَّـكِ تَمْحِيْنَ مَا أَكْتُبُ
(Q): Lianna-ki tamhiina maa aktubu.
Karena kamu menghapus apa yg aku tulis.

الممحاة: أَنَا لاَ أَمْحُوْ إِلاَّ اْلأَخْطَاء
(M): Ana laa amhuu illa al-akhthoo'
Aku tidak menghapus kecuali yg salah2

القلم: وَمَا شَأْنُكِ أَنْتِ!؟
(Q): Wa maa sya'nu-ki anti ?!!
Apa urusanmu ?!

الممحاة: أَنَا مِمْحَاةٌ، وَهَذَا عَمَلِي
(M): Ana mimhaatun, wa haadzaa 'amalii.
Aku penghapus, dan inilah pekerjaanku.

القلم: هَذَا لَيْسَ عَمَلاً
(Q): Haadzaa laysa 'amalan !!
Ini bukan pekerjaan !!

الممحاة: عَمَلِي نَافِعٌ مِثْلُ عَمَلِكَ
(M): 'Amalii naafi'un mitslu 'amalika.
Pekerjaanku bermanfaat seperti pekerjaanmu.

القلم: أَنْتِ مُخْطِئَةٌ وَمَغْرُوْرَةٌ
(Q): Anti mukhthi-ah wa maghruuroh!!
Kamu salah dan berlebihan!!

الممحاة: لِمَاذَا؟
(M): Limaadzaa?!
Kenapa?!

القلم: لأَِنَّ مَنْ يَكْتُبُ أَفْضَلُ مِمّنْ يَمْحُوْ
(Q): Lianna man yaktubu afdlolu mimman yamhuu!
Karena yang menulis itu lebih baik daripada yang menghapus!

الممحاة: إِزَالَةُ الْخَطَأ تُعَادِلُ كِتَابَةَ الصَّوَابِ
(M): Izaalatu al-khotho' tu'aadilu kitaabata ash-showaab..
Menghapus kesalahan itu setara / sebanding dengan menulis kebenaran..

أُطْرَقَ الْقَلَمُ لَحْظَةً، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ، وَقَالَ: صَدَقْتِ يَا صَدِيْـقَـتِي
Uthroqo al-qolamu lahzhotan, tsumma rofa'a ro'sa-hu, wa qoola: "Shodaqti yaa shodiiqotii..!"

Pensil pun terketuk sejenak, lalu mengangkat kepalanya, dan berkata: "Kamu benar wahai sahabatku..!"

الممحاة: أَمَا زِلْتَ تَكْرَهُــنِي؟
(M): A-maa zilta takrohu-nii?
Apakah kamu masih membenciku?

القلم: لَنْ أَكْــرَهَ مَنْ يَمْحُــوْ أَخْطَائِي
(Q): Lan akroha man yamhuu akhthoo-ii..
Aku tidak akan membenci siapa yg menghapus kesalahanku..

الممحاة: وَأَنَا لَنْ أَمْحُوَ مَا كَانَ صَوَاباً
(M): Wa ana lan amhuwa maa kaana showaaban..
Dan aku tidak akan menghapus apa2 yg sudah benar..

القلم: وَلَكِنَّـنِي أَرَاكِ تَصْغُرِيْنَ يَوْماً بَعْدَ يَوْمٍ ؟ 
(Q): Wa laakinna-nii aroo-ki tashghuriina yawman ba'da yawmin?
Tapi, aku kok melihatmu bertambah pendek hari demi hari?

الممحاة: لأَِنَّـنِي أُضَحِّي بِشَيْءٍ مِنْ جِسْمِي كُلَّمَا مَحَوْتُ خَطَأً
(M): Lianna-nii udlohhii bi-syai-in min jismii kullamaa mahaw-tu khotho-an.

Karena aku berkorban dgn sesuatu dari badanku setiap kali aku menghapus sebuah kesalahan.

قَالَ الْقَلَمُ مَحْزُوْناً: وَأَنَا أَحَسُّ أَنَّـنِي أَقْصُرُ مِمَّا كُنْتِ
Qoola al-Qolam mahzuunan: "Wa ana ahassu anna-nii aqshuru mimman kunti"

Pensilpun berkata sedih: "Dan akupun merasa bahwa aku semakin pendek seperti yg kamu alami"

الممحاة: لاَ نَسْتَطْيْعُ إِفَادَةَ اْلآخَرِيْنَ، إِلاَّ إِذَا قَدَّمْنَا تَضْحِيَةً مِنْ أَجْلِهِمْ
(M): Laa nastathii'u ifaadata al-aakhoriin, illa idzaa qoddamnaa tadlhiyah min ajli-him.

Kita tidak bisa memberikan manfaat kepada orang lain, kecuali kita berkorban untuk mereka.

قَالَ الْقَلَمُ مَسْرُوْرًا: مَا أَعْظَمَكِ يَا صَدِيْقَتِي، وَمَا أَجْمَلَ كَلاَمِكِ
Qoola al-Qolamu masruuron: "Maa a'zhoma-ki yaa shodiiqotii, wa maa ajmala kalaami-ki".

Pensilpun berkata dgn gembira: "Alangkah agungnya kamu wahai sahabatku, dan alangkah indahnya perkataanmu"

فَرِحَتْ اَلْمِمْحَاة، وَفَرِحَ اَلْقَلَمُ، وَعَاشَا صَدِيْقَيْنِ حَمِيْمَيْنِ، لاَ يَفْتَرِقَانِ وَلاَ يَخْتَلِفَانِ
Farihat al-mimhaat, wa fariha al-qolam, wa 'aasyaa shodiiqoini hamiimaini, laa yaftariqooni wa laa yakhtalifaani.

Penghapus senang, pensilpun senang, keduanya hidup sebagai sahabat yg akrab, tidak berpisah, tidak pula berselisih.

***

لِمَاذَا لاَ نَقُوْلُ شُكْرًا لِمَنْ يَمْحُوْ لَنَا اَخْطَائَنَا، وَيُرْشِدُنَا إِلَي طَرِيْقِ الصَّوَابِ ؟ أَلَا يَسْتَحِقُّ الشُّكْرُ ؟
Limaadzaa laa naquulu "syukron" li-man yamhuu lanaa akhthoo-a-naa, wa yursyidunaa ilaa thoriiqi ash-showaab? Alaa yastahiqqu asy-Syukru?

Mengapa kita tidak berkata "Terima Kasih" kepada orang yg menghapus kesalahan2 kita dan menuntun kita ke jalan yg benar? Tidak layak kah berterima kasih?


~FT