Jumat, 05 November 2010

Gusdur dan Perannya Terhadap NU

Abdurrahman Ad Dakhil demikian nama lengkapnya yang leksikal. Sebuah nama yang diambil oleh Wahid Hasyim . Orang tuanya dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah menancapkan tonggak kejayaan Islam di Negara Spanyo.KH Abdurrahman Ad Dakhil yangs sering disapa Gusdur  itu dikenal sebagai  tokoh yang memiliki banyak julukan diantaranya adalah seorang kiyai, tokoh NU , politisi dan seorang guru bangsa yang kontroversi.
Dalam riwayat pendidikannya  Gusdur pernah study di Universitas Al Azhar Cairo Mesir (1963). Pada tahun 1996 pindah ke Baghdad. Beliau juga pernah mengenyam pendidikannya di Leiden – Belanda , kemudian ke Jerman dan Perancis . Semenjak kepulangannya dari berbagai Negara beliau mulai membuat kejutan baru di Negara Indonesia. Sehingga apresiasi , pemujaan serta kritik dan tuduhan merupakan hal yang biasa mengena pada beliau. Tidak hanya di kalangan NU tetapi di kalangan dunia internasional.

Sosok kehadiran cucu pendiri NU ( KH. Hasyim Asy’ari) ternyata tidak dapat dipisahkan dari sejarah. Jika dilihat dari segi kulturalnya, Gusdur  melintasi 3 lapisan budaya. Pertama kutur pesantren yang hirarkis. Pemikiran beliau mengenai agama di peroleh di dunia tersebut. Lembaga inilah yang membentuk karakter keagamaan yang penuh etik, formal serta structural. Kedua kebudayyan baik dari timur tengah yang bebas namun santun. Ketiga lapisan budaya barat yang rasional , modern serta liberal. Begitu juga persentuhannya dengan para pemikir yang mulai konservatif dan ortodoks ke pemikiran radikal.
Aktivitas Gusdur secara formal tercatat dalam organisasi NU di mulai pada tahun 1979 dlam muktamar NU di Semarang. Pasca muktamar Gusdur diangkat sebagai wakil katib Syuriyyah PBNU. Sebagai ketua  umum PBNU dalam muktamar NU tahun 1984. Lantas terpilih kembali untuk yang ke dua kalinya dalam muktamar NU pada tahun 1989 sebagai ketua tahun 1989 _ 1994. Dan pada tahun 1995 Gusdur terpilih sebagai ketua umum organisasi muslim terbesar di Indonesia hingga tahun 1999.
Muktamar Situbondo dicatat dengan tinta emas dalam sejarah NU , bukan hanya karena sejak itu NU memutuskan untuk kembali ke “ Khittah” tetapi karena Situbondo berhasil memilih seseorang pemimpin yang kemudian mengubah sejarah NU yang tak pernah lagi sama dari era – era sebelumnya. Muktamar NU begitu fenomental karena forum itu telah berhasil memilih Abdurrahman sebagai ketua tanfidziyahnya. Pada awalnya “ Khittah “ ini kurang disetujui oleh banyak orang karena banyak dari kalangan NU yang masih menikmati kalangan politik.
Gusdur  mengawali kepemimpinannya dengan melakukan renovasi di tubuh NU itu sendiri . Di antaranya di bidang pendidikan terhadap orde baru. Selain itu juga memberi dukungan penuh dengan cara menerima pancasila sebagai sebuah ideology Negara Indonesia. Beliau juga tidak hanya seorang tokoh NU tetapi juga aktivis HAM. Pembela demokrasi dan pejuang kebebasan. Buah pemikirannya tidak hanya dalam sebuah wacana kepenulisan tetapi juga dengan berbagai aksi yang berpegang pada anti diskriminasi . Lewat tulisan tersebut gagasan pemikiran Gusdur mulai mendapatkan penuh perhatian dari berbagai kalangan.
 Seorang tokoh NU yang masyhur itu telah merubah citra perjalanan NU dari sebuah organisasi yang terbelakang menjadi Islam yang dinamis. Beliau juga menekankan perlunya melihat Islam secara substansial sehingga perlu dibedakan antara teologi ritual dengan humanisme. Dan pada titik humanisme inilah yang mempertemukan antara Islam dengan agama lain dalam naungan NKRI. Selain Civil Society, ada 2 hal yang di sampaikan Gusdur yakni penerimaan NU terhadap Pancasila dan UUD 1945 sebagai ideology Negara dan konstitusi Negara serta kemandirian jam’iyyah NU.
Hal lainnya yang menonjol dari Gusdur adalah perannya sebagai bandul pendulum gerakan keagamaan dan poitik di Indonesia . Dalam kiprah dan pemikirannya, beliau tidak berada dalam satu eksterm ke eksterm lainnya. . Akan tetapi beliau memainkan peran pendulum tersebut dengan  baik sepanjang perjuangan politiknya. Hal itu terlihat ketika bersikap kritis terhadap ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). Saat itu ada kecenderungan Islamisasi dalam Negara melalui organisasi yang didirikan para cendekiawan dan mendapat dukungan penu dari presiden Soeharto.
Sedangkan peran kontroversionalnya Gusdur lakukan karena sekedar ingin berbeda dengan arus umum. Namun hal tersebut dilakukannya dengan penuh kesadran serta resiko – resikonya.Kemampuan intelektualnya dan kekuatan Dzury=iyahnya ( garis keturunan kiyai) serta model kepemimpinannya membuat Gusdur bisa bertahan sebagai bandul pendulum sepanjang hidupnya. Meskipun sekali membuat kontroversi di berbagai bidang , kekuatannya yang bertumpuk – tumpuk justru menjadikan Gusdur dihargai.
Belakangan Gusdur dijadikan jimat NU. Dengan kata lain, NU tidak bisa dipisahkan dengan nama Gusdur . Oleh karena itu Gusdur memperkenalkan wajah Islam Indonesia yang moderat dan damai kian relevan ketika dunia dihadapkan pada berbagai bentuk ekstrimisme dan fundamentalisme. Karena NU harus tetap bergerak dan mampu berdiri di dua kesadaran sekaligus. Yakni tradisi dan budaya modern “ Al Mukhafadzotu ‘ala Qodiimil Sholih Wal Akhdu bi jadiidil ashlah “.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar