Jumat, 05 November 2010

Relasi Nuzulul al Qur'an dengan Ramadhan

 مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
 “ Barang siapa yang menunaikan puasa Ramadhan karena iman dan berharap Ridho Alloh, maka di ampuni dosa- dosa yang telah lalu.”
Diantara keistimewaan dan keutamaannya adalah, di wajibkannya untuk berpuasa, dalam bulan ini, pintu Jannah di buka, pintu neraka ditutup, syaitan – syaitan dibelenggu.dan dalam bulan ini ada satu malam yang nilainya sama dengan seribu bulan(malam Lailatu Qadar).
Seperti yang telah dikatakan di atas, bahwa salah satu keutamaan Ramadhan adalah bulan dimana saat diturunkannya Alquran.Bagi umat Islam, peristiwa nuzulul Quran adalah peristiwa yang sangat agung, dimana Alquran diturunkan pada malam lailatu qadar dari Lauhil mahfudz ke langit dunia.seperti yang telah dijelaskan dalam firman Alloh surat Al Qadar : 1-5 
أَنزَلنٰهُ فى لَيلَةِ القَدرِ ﴿١﴾ وَما أَدرىٰكَ ما لَيلَةُ القَدرِ ﴿٢﴾ لَيلَةُ القَدرِ خَيرٌ مِن أَلفِ شَهرٍ ﴿٣﴾ تَنَزَّلُ المَلٰئِكَةُ إِنّا وَالرّوحُ فيها بِإِذنِ رَبِّهِم مِن كُلِّ أَمرٍ ﴿٤﴾ سَلٰمٌ هِىَ حَتّىٰ مَطلَعِ الفَجر 
٥
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan.Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.Pada malam itu turun malaikat –malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin tuhannya untuk mengatur segala urusan.Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.
Dan terdapat firman Alloh juga yang menguatkan bahwa Al quran di turunkan pada bulan Ramadhan,yaitu dalam surat Al Baqarah ayat 185 .Yang artinya “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan(permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas- penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda(antara yang haq dan yang bathil).
Alloh memang menurunkan Alquran pada waktu yang tepat,sehingga tidaklah heran kalau terdapat keistimewaan yang khusus pada malam Lailatu Qadar.Dalam surat Ad Dukhon ayat 3 juga disebutkan bahwa Alquran diturunkan pada malam yang penuh berkah.Kemudian dalam ayat 4,5 dan 6 dibahas juga,bahwasannya Aloh mengutus para Rasul termasuk Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam.kaitannya Alquran dengan lailatu Qadar mengindikasikan bahwa hubungan ini sangat erat yang berbasis kemuliaan.Sedangkan Alquran itu sendiri diposisikan sebagai pedoman yang menjadi pintu kesejahteraan, petunjuk dalam kehidupan umat manusia demi mencapai kebahagiaan lahir dan bathin.Ia melukiskan gambaran dan tanda-tandanya yang mengundang manusia untuk segera mengambil pelajaran darinya.Setelah diambilnya pelajaran , ditariklah kesimpulannya,ternyata jiwa manusia tanpa disadari terpesona oleh kedalaman dan keluasan makna Alquran.Hal ini menunjukkan bahwa Alquran sebagai mukjizat terbukti menjadi modal dunia dan akhirat.
Selain itu, umat Islam dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk bermunajat memohon ampun, memperbanyak amalan ibadah terutama di malam Laiatu Qadar yang selalu menjadi pertanyaan besar.Karena Nabi sendiri pun tidak pernah menjelaskan secara detail tentang waktu diturunkannya Alquran pada malam Lailatu Qadar.Para ulama berbeda pendapat tentang kaifiyah(metode) awal mula diturunkannya Alquran sekaligus dari lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah(langit dunia) pada malam Lailatu Qadar ataukah sebagiannya.

Ada beberapa pendapat para ulama tentang kaifiyah nuzulul Quran seperti yang telah dijelaskan dalam kitab Al Itqon, bahwasannya:
1.      Alquran diturunkan ke langit dunia pada malam Lailatu Qadar secara keseluruhan.Setelah itu, baru munajjaman(berangsur-angsur) ke Rasululoh dalam kurun waktu 20/23 atau bahkan 25 tahun.Tergantung perbedaan pendapat para ulama tentang waktu Nabi Muhammad tinggal di Makkah setelah diutus menjadi Rasul.Pendapat inilah yang di anggap ashoh.
2.      Alquran diturunkan ke langit dunia pada 20/23 atau 25 malam Lailatu Qadar.Setiap malamnya menurunkan tergantung Alloh menurunkannya di setiap tahunnya.Kemudian setelah itu baru secara munajjaman. Pendapat ini dinisbatkan kepada Al Imam Fakhruddn Ar Raazii
3.      Sedangkan pendapat yang ke 3 ini, mengatakan bahwa awal mulanya Alquran diturunkan pada malam Lailatu Qadar, setelah itu munajjaman pada waktu yang berbeda.Pendapat ini di nisbatkan oleh Asy Sya’bi.
Melalui sejarah Nuzul Quran ini tentunya terdapat beberapa hikmah yang di ambil dari inspirasi malam Lailatu Qadar, sebagai malam turunnya kalamulloh, dan ada beberapa hal yang bisa di transfer ke dalam kehidupan keseharian.Karena Alloh tidak menentukan tanggal atau malam yang tetap datangnya Laiatul Qadar.Ada proses perahasiaan yang memang Alloh ciptakan.Hal ini terkait spirit umat Islam dalam menghidupkan malam- malam Ramadhan.Seandainya Lailatu Qadar ditetapkan pada malam tertentu, tentu perhatian umat Islam hanya akan tertuju pada satu malam saja. Karena menganggap sudah cukup dan meninggalkanmalam yang lain untuk rajin beribadah.Dan kalau hal ini terjadi tidaklah ada perbedaan antara orang – orang yang tekun beribadah di malam- malam Ramadhan dengan orang yang hanya mementingkan kuantitas pahala pada Lailatu Qadar.Wallohu a’lam bisshowab.



Gusdur dan Perannya Terhadap NU

Abdurrahman Ad Dakhil demikian nama lengkapnya yang leksikal. Sebuah nama yang diambil oleh Wahid Hasyim . Orang tuanya dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah menancapkan tonggak kejayaan Islam di Negara Spanyo.KH Abdurrahman Ad Dakhil yangs sering disapa Gusdur  itu dikenal sebagai  tokoh yang memiliki banyak julukan diantaranya adalah seorang kiyai, tokoh NU , politisi dan seorang guru bangsa yang kontroversi.
Dalam riwayat pendidikannya  Gusdur pernah study di Universitas Al Azhar Cairo Mesir (1963). Pada tahun 1996 pindah ke Baghdad. Beliau juga pernah mengenyam pendidikannya di Leiden – Belanda , kemudian ke Jerman dan Perancis . Semenjak kepulangannya dari berbagai Negara beliau mulai membuat kejutan baru di Negara Indonesia. Sehingga apresiasi , pemujaan serta kritik dan tuduhan merupakan hal yang biasa mengena pada beliau. Tidak hanya di kalangan NU tetapi di kalangan dunia internasional.

Sosok kehadiran cucu pendiri NU ( KH. Hasyim Asy’ari) ternyata tidak dapat dipisahkan dari sejarah. Jika dilihat dari segi kulturalnya, Gusdur  melintasi 3 lapisan budaya. Pertama kutur pesantren yang hirarkis. Pemikiran beliau mengenai agama di peroleh di dunia tersebut. Lembaga inilah yang membentuk karakter keagamaan yang penuh etik, formal serta structural. Kedua kebudayyan baik dari timur tengah yang bebas namun santun. Ketiga lapisan budaya barat yang rasional , modern serta liberal. Begitu juga persentuhannya dengan para pemikir yang mulai konservatif dan ortodoks ke pemikiran radikal.
Aktivitas Gusdur secara formal tercatat dalam organisasi NU di mulai pada tahun 1979 dlam muktamar NU di Semarang. Pasca muktamar Gusdur diangkat sebagai wakil katib Syuriyyah PBNU. Sebagai ketua  umum PBNU dalam muktamar NU tahun 1984. Lantas terpilih kembali untuk yang ke dua kalinya dalam muktamar NU pada tahun 1989 sebagai ketua tahun 1989 _ 1994. Dan pada tahun 1995 Gusdur terpilih sebagai ketua umum organisasi muslim terbesar di Indonesia hingga tahun 1999.
Muktamar Situbondo dicatat dengan tinta emas dalam sejarah NU , bukan hanya karena sejak itu NU memutuskan untuk kembali ke “ Khittah” tetapi karena Situbondo berhasil memilih seseorang pemimpin yang kemudian mengubah sejarah NU yang tak pernah lagi sama dari era – era sebelumnya. Muktamar NU begitu fenomental karena forum itu telah berhasil memilih Abdurrahman sebagai ketua tanfidziyahnya. Pada awalnya “ Khittah “ ini kurang disetujui oleh banyak orang karena banyak dari kalangan NU yang masih menikmati kalangan politik.
Gusdur  mengawali kepemimpinannya dengan melakukan renovasi di tubuh NU itu sendiri . Di antaranya di bidang pendidikan terhadap orde baru. Selain itu juga memberi dukungan penuh dengan cara menerima pancasila sebagai sebuah ideology Negara Indonesia. Beliau juga tidak hanya seorang tokoh NU tetapi juga aktivis HAM. Pembela demokrasi dan pejuang kebebasan. Buah pemikirannya tidak hanya dalam sebuah wacana kepenulisan tetapi juga dengan berbagai aksi yang berpegang pada anti diskriminasi . Lewat tulisan tersebut gagasan pemikiran Gusdur mulai mendapatkan penuh perhatian dari berbagai kalangan.
 Seorang tokoh NU yang masyhur itu telah merubah citra perjalanan NU dari sebuah organisasi yang terbelakang menjadi Islam yang dinamis. Beliau juga menekankan perlunya melihat Islam secara substansial sehingga perlu dibedakan antara teologi ritual dengan humanisme. Dan pada titik humanisme inilah yang mempertemukan antara Islam dengan agama lain dalam naungan NKRI. Selain Civil Society, ada 2 hal yang di sampaikan Gusdur yakni penerimaan NU terhadap Pancasila dan UUD 1945 sebagai ideology Negara dan konstitusi Negara serta kemandirian jam’iyyah NU.
Hal lainnya yang menonjol dari Gusdur adalah perannya sebagai bandul pendulum gerakan keagamaan dan poitik di Indonesia . Dalam kiprah dan pemikirannya, beliau tidak berada dalam satu eksterm ke eksterm lainnya. . Akan tetapi beliau memainkan peran pendulum tersebut dengan  baik sepanjang perjuangan politiknya. Hal itu terlihat ketika bersikap kritis terhadap ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). Saat itu ada kecenderungan Islamisasi dalam Negara melalui organisasi yang didirikan para cendekiawan dan mendapat dukungan penu dari presiden Soeharto.
Sedangkan peran kontroversionalnya Gusdur lakukan karena sekedar ingin berbeda dengan arus umum. Namun hal tersebut dilakukannya dengan penuh kesadran serta resiko – resikonya.Kemampuan intelektualnya dan kekuatan Dzury=iyahnya ( garis keturunan kiyai) serta model kepemimpinannya membuat Gusdur bisa bertahan sebagai bandul pendulum sepanjang hidupnya. Meskipun sekali membuat kontroversi di berbagai bidang , kekuatannya yang bertumpuk – tumpuk justru menjadikan Gusdur dihargai.
Belakangan Gusdur dijadikan jimat NU. Dengan kata lain, NU tidak bisa dipisahkan dengan nama Gusdur . Oleh karena itu Gusdur memperkenalkan wajah Islam Indonesia yang moderat dan damai kian relevan ketika dunia dihadapkan pada berbagai bentuk ekstrimisme dan fundamentalisme. Karena NU harus tetap bergerak dan mampu berdiri di dua kesadaran sekaligus. Yakni tradisi dan budaya modern “ Al Mukhafadzotu ‘ala Qodiimil Sholih Wal Akhdu bi jadiidil ashlah “.